Inilah salah satu kisah tak terlupakan yang akan Kuceritakan, hari itu sabtu tepatnya bulan maret 2009, setelah hampir 3 tahun kami menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah kejuruan di Kulon Progo, tak terasa satu bulan lagi Ujian Nasional akan kami hadapi, saat – saat yang terberat di penghujung masa studi kami. untuk menghadapinya kami jadi rajin belajar, ikut les dan try out, dan coba tebak kawan?? Dari 4 try out yg Aku ikuti berakhir dengan dua kali kegagalan. Peluang lulus seolah jadi 50 : 50 membuat irama jantungku berpacu seperti motor yang dipacu cepat mengejar waktu, beban pikiranku sebesar arus listrik yang mengaliri SUTET. Aku tidak boleh setegang ini kawan, pikirku dalam hati, "beban pikiran" ini harus kusalurkan.
Selepas istirahat, ditemani dua sahabatku Ridlwan dan Yudi, Aku duduk di jembatan kecil belakang kantin dibawahnya mengalir selokan keruh yang banyak kecebongnya. “Sobat, lelah sekali hari ini dan hampir meledah isi kepalaku memikirkan UNAS, bagaimana menurutmu? ,Tanyaku pada mereka. “Aku rasa juga begitu”, Yudi menjawab kegusaranku. Bagaimana Ridwan?”, tanyaku pada Professor Einstein yg satu ini. Oke besok kita relaksasi, idenya sama tapi kali ini lebih gila, Ridwan Spontan menjawab, Maksudmu??, Aku penasaran dengan isi otaknya.
Begini Ote kita kan sudah sering joging bersama di alun – alun kota, namun itu terlalu membosankan menurutku, bagaimana besok kita berlomba marathon dari sentolo sampai sedayu? aku rasa ini cukup menantang karena rute yang kita lewati 10 x lebih jauh, lalu lintas yang padat kendaraan melintas, mobil dan sepeda motor saling menyalip ugal - ugalan, dan truk – truk besar bermuatan ganda yang menghabiskan bahu jalan, itu artinya kita lewat rute jalan propinsi, jika kamu menganggap resikonya terlalu tinggi, anggaplah itu sebuah harga yang sepadan dengan apa yang akan kamu dapatkan nanti, hukum alamnya, siapa saja yang pertama sampai di sedayu maka di UNAS besok dialah yang tertinggi diantara kita, sejenak aku terkesima dengan ide briliant yg konyol dari anak komandan ABRI ini, sungguh cara yang bagus untuk memacu semangat kami untuk maju namun aku tidak mau mati konyol untuk ini. Aku coba melihat reaksi Yudi, kamu mau Yud?? , dengan sorot mata yang ragu dia alihkan pertanyaanku, kamu sendiri gimana Ote??
Tersudut dengan “Ide Gila” Ridwan, aku Iyakan kemauan sang arsitek “robot gedhek” itu. Oke aku setuju, besok jam 5 kita standby di Tugu Pensil. Paling lambat jam 5.30 kita mulai, mungkin sekitar satu setengah jam kita sampai ke sedayu, jangan sampai terlalu siang, lebih dari jam itu aku ragu truk – truk 8 roda itu masih transit di seberang Pom Bensin Kenteng, tempat biasa truk truk besar ngetem. Oke aku ikut, Yudi memantapkan diri. Selepas pelajaran usai kami pulang dengan segudang pikiran macam – macam tentang nasib kami besok. Sungguh diluar perkiraan kami berkompromi dengan jalan pintas yang sungguh diluar logika. Menggantungkan hasil UNAS dengan Marathon "Maut", sulit dipercaya. Tapi itulah kawanku, selalu memberi ide ngawur yang kadang ngelantur. Pufff, nafasku meniup di kedua lubang hidungku.. santai sajalah...
Pukul 4.30 Adzan subuh terdengar sayup – sayup di telinga, namun tidak seperti biasanya, Aku yang setiap minggu terbiasa bangun setelah matahari terbit setengah tiang mendadak menjadi ayam jantan yang siap berkokok menyambut rencana yang tak lazim itu. Selepas sholat dan mempersiapkan seragam dan perbekalan sewajarnya, jam 5.00 Aku berangkat, seperti kataku kawan, kita berkumpul paling lambat jam 5.30, dan akulah yang terakhir sampai di sana, terlihat dua orang sahabatku yang sedari subuh sudah menunggui tugu lambang alat tulis itu.
Kami bukan hanya berkompetisi fisik hari ini, namun lebih dari itu, alam bawah sadar inilah yang akan membuktikan sugesti siapa yang menang. Setelah menitipkan motor, Tepat pukul 5.40 kami mulai ajang pembuktian diri ini, bukan untuk pamer tapi inilah cara lelaki yang kami pilih, marathon senam jantung. Karena setiap gerakan yang kami lakukan, harus diimbangi dengan kewaspadaan tinggi, koordinasi mata, telinga, dan kaki. untuk mendahului lawan, kami harus memperhatikan arah depan dan belakang dan kanan, adakah motor, bis, pickup, mobil, truk, sepeda atau orang gila yang akan berpapasan dengan kami. Dan momok kami “truk gandeng 16 roda”, monster kawan.
Harus kuakui, dalam kecepatan dan kecepatan Ridwan lah yang pertama, Aku hanya unggul dalam stamina. Sedangkan Yudi unggul dalam “mendaki aspal”. Dari Tugu Pensil sampailah kami dengan posisi berbeda di Pertigaan "Dudukan", kawasan pangkalan ojek di sentolo yang cukup menanjak. Ridwan masih di posisi pertama, dan Yudi tak enak hati kusebut sebagai juru kunci. Namun inilah metamorphosis kepribadian yang coba kami tanamkan dalam hati, “untuk menghadapi kesulitan macam apapun, jangan berhenti pada keadaan terburuk tapi pergunakanlah keyakinanmu untuk bicara pada dirimu bahwa kamu tidak ditakdirkan untuk mundur, tapi terus maju sampai kapanpun”. arus laut pun tak akan mampu memundurkan laju kapal kami. satu pelajaran berharga kami petik hari itu.
Dari "Dudukan" sampai ke "Pasar Sentolo", sudah habis tenaga kami untuk berlari. Dalam jarak yang tidak begitu jauh dengan Ridwan aku berusaha mengejarnya dengan sisa kekuatan kaki yang tak tega kupaksakan. Dasar Ridwan, bukannya melambat, ditariknya lagi kaki - kaki kudanya, sehingga aku tertinggal lebih jauh lagi darinya. tersadar ketika melihat kebelakang, Yudi masih menapaki aspal – aspal dengan cara manula, jalan santai kawan. Kulihat jam di sebuah pos polisi, jam menunjukkan angka 6.05, itu artinya masih 25 menit lagi sisa waktu kami untuk menginjak sedayu, aku berusaha melambat agar Yudi menyusulku. Kulihat Ridwan juga tidak bernafsu untuk mempercepat laju keretanya, malah dia terlihat duduk dibawah tiang reklame yang diatasnya bersarang 3 buah baterei merk ABC. Yudi dan Aku akhirnya menyusul Ridwan disana, kami menumpahkan rasa penat yang teramat sangat dengan duduk disebuah batu yang bersebelahan dengan tiang reklame.
Masih kuatkah kita kawan?? Tanyaku lemas. Sampai segitukah kemampuanmu Ote???, mana ambisi besarmu itu??? Ridwan menyadarkanku. “kawan, kompetisi ini bukanlah untuk saling mengungguli satu sama lain, tujuan kita sama, yaitu menjadi pemenang, tapi tahukah kawan, kita akan merasa lebih berharga menjadi manusia jika kita bisa menang dari ego kita sendiri, Yudi menarik kesimpulan bijaknya. Ya, kurasa kamu benar Yud, mungkin sudah saatnya kita membuang dogma individualistik yang selama ini mengabaikan kemanusiaan kita, mari kita melangkah bersama untuk satu tujuan, dan genggam erat persahabatan kita, kelak kita akan menagis dan tertawa mengingat ini, aku menepuk punggung kedua sahabatku.
Begitulah kawan kami berjalan bersama menuju tujuan yang sudah kami tetapkan, bukan untuk saling mendahului. Tapi kami saling mengisi satu sama lain. Meneguhkan bahwa kami tak akan meninggalkan teman kami, seperti apapun keadaannya dulu dan sekarang, sahabat untuk selamanya.
Tepat pukul 7.00 sampailah kami di jalan sedayu, lega memang. tantangan yang berat dapat kami taklukan bersama, 2 botol air mineral kami habiskan bertiga. Nikmatnya kemenangan bersama. tapi ada satu yang menganjal pikiranku kawan? Adakah tenaga kita untuk kembali ke tempat semula??. Tenanglah sebentar lagi sumber rejeki lewat, ridwan menahan senyumnya. Tak lama berselang tiga orang yang tadinya mengarungi dunia dengan kaki mereka, kini melenggang nyaman di kursi penumpang bis kota untuk kembali ketempat semula, ditemani simbah – simbah yang hendak pergi kepasar sambil terus memandangi kami, sambil berujar. “Ono tumon wong Olahraga numpak bis”.
